Tindakan terbaik apakah yang dapat diambil jika beban yang ditanggung bisnis lebih besar daripada pendapatannya, dan pendapatan itu semakin lama semakin menipis? Menaikkan harga mungkin saja mendongkrak pendapatan, namun bagaimana jika peraturan melarangnya? Anda bisa saja merangsang permintaan untuk menarik pelanggan lebih banyak dan menaikkan pendapatan, namun hal ini hanya dapat dilakukan jika terdapat kapasitas yang cukup untuk mengakomodasi beban kerja tambahan: Jika sumber daya yang tersedia sudah digunakan sepenuhnya untuk beban pekerjaan yang ada, menambah beban pekerjaan lebih banyak bukan merupakan solusi. Dilema ini menimbulkan pertentangan antar para dokter di AS, dan hal itu menyebabkan penyimpangan dari praktek kedokteran tradisional. Agar tetap bisa bertahan dalam bisnis ini, para dokter memikirkan kembali jenis jasa yang mereka tawarkan dan harga yang akan mereka kenakan.
Permasalahan mendasar bagi para dokter HMO dan program perawatan kesehatan lainnya adalah tingginya birokrasi yang harus dihadapi dan semakin berkurangnya penggantian biaya (reimburce) oleh pemerintah dan perusahaan asuransi. Contohnya adalah biaya CAT scan sebesar $1.456 pada sebuah kasus bedah saraf: Medicare membayar sebesar $161 dan sebuah perusahaan asuransi swasta membayar sebesar $261. Jadi klinik tersebut menerima penggantian hanya sebesar $422, sebuah angka yang sangat jauh untuk dapat menutupi biaya pembayaran gaji tenaga paramedik serta penggunaan alat-alat medis yang mahal, dan pada akhirnya menyisakan biaya sebesar $1.034 yang tak terbayar. Pasien-pasien Medicare tidak dapat ditagih untuk membayar biaya yang tersisa akibat penurunan penggantian biaya tersebut. Akibatnya, untuk menutupi penurunan pendapatan, dokter terpaksa menangani pasien lebih banyak, sebagai usaha untuk meningkatkan pendapatan. Menghadapi tarif dokter yang hanya sebesar $15-$40 per pasien di Los Alamitos, California, seorang ahli penyakit dalam (internis) Marcy Zwelling-Aamot mengatakan bahwa sebagian besar dokter terpaksa menemui 30 pasien per harinya untuk menutupi pengeluaran yang ada. Jumlah pasien yang sangat banyak berarti semakin sedikit waktu yang didapatkan pasien untuk bertemu dengan dokternya dan semakin panjang waktu yang dibutuhkan dokter untuk bekerja. Selain itu, masih ada pekerjaan tambahan lainnya diluar jam kerja-membereskan catatan medis pasien, memproses permintaan resep, menjawab telepon pasien, dan kunjungan pasien rawat inap-Dr. Zwelling memberi komentar, "Rasanya saya mau mati menghadapi pekerjaan seperti ini."
Salah satu tindakan yang diambil terhadap tekanan yang semakin memuncak ini, adalah beralih kepada praktek medis "butik"-pemberian layanan yang sangat berbeda, dengan metode pemberlakuan harga yang berbeda-yang menawarkan layanan kesehatan kelas atas (VIP) pada tingkat harga premium. Salah satu contohnya adalah layanan yang diberikan seorang tenaga medis, Darrel Hopkins, yang telah berpraktek selama 15 tahun. Ia tertarik dengan ide untuk menangkas jumlah pasien yang harus ditemuinya, yang sebelumnya berjumlah 2500 per tahun, dan berhasil diturunkan menjadi 600 per tahun. Dengan tarif sebesar $1800 per tahunnya, pasien tidak akan duduk menunggu giliran untuk diperiksa oleh dokter, dapat mengakses layanan medis Hopkins kapanpun, dan dapat menemui dokternya tanpa harus terburu-buru, Hopkins berkata,"Saya tidak tau apakah saya akan mampu memberikan layanan panggilan kerumah, tetapi sema pasien saya dapat menghubungi penyeranta saya, dan mereka tidak akan mendapatkan dokter yang asal-asalan." Di California sendiri, terdapat 200 tenaga medis yang memberi layanan seperti ini.
"Saya tak tahu apakah saya mampu menjawab panggilan ke rumah, tapi semua pasien saya akan memiliki nomor penyeranta saya, dan mereka takkan mendapatkan dokter yang asal-asalan."
-Dokter Darrel Hopkins, Tentang keputusannya berpraktek "butik"-
Walaupun beberapa klinik "butik" seperti ini masih menagih pembayaran kepada pemberi asuransi atas jasa yang telah diberikan, ada beberapa yang memutuskan hubungan kerjasamanya dengan pemberi asuransi, seperti yang dilakukan oleh ahli penyakit dalam, Zwelling-Aamot. Untuk mengurangi pasiennya yang berjumlah 3000 orang menjadi 400-600, setiap pasien dikenakan biaya $1500 per pasien, atau $2400 untuk paket keluarga (4 orang). Tarif untuk layanan diluar paket dasar, menjadi tanggungan pasien. "Ini bukan permasalahan mengukur seseorang, tapi merupakan masalah memberikan lebih banyak waktu saya untuk merawat orang", ujar Zwelling-Aamot. Ketika pasar mulai menyesuaikan dengan layanan paket klinik butik, pasien mulai menilai layanan yang didapatkannya. Apakah keuntungan dari produk perawatan kesehatan yang diterima sudah sesuai dengan harganya yang demikian tinggi? Bagaimana dengan isu etika profesi kedokteran dan jumlah masyarakat yang sedemikian besar. Bukankah semua orang, tidak saja yang berduit, memiliki akses untuk mendapat perawatan kesehatan yang baik?
Semakin beragam pandangan masyarakat pasar terhadap praktek jasa medis butik. Seorang pasien yang bekerja sebagai eksekutif pada sebuah perusahaan, Debra Eggeman dari Buena Park, California, membayar sebesar $1800 untuk pelayanan jasa tersebut memberikan komentarnya, "Ketika saya mendengarnya untuk pertama kali, saya mengatakan, 'Apa artinya ini semua bagi saya?". Kemudian sayapun berkata, Mau tahu? Saya sangat menyukainya. Cukup masuk akal. "Seorang CEO dari California Medical Association, Jack Lewin pun memberikan komentarnya, "Rata-rata seorang dokter harus menemui ribuan pasien setiap tahunnya untuk dapat terus bertahan, dan hasilnya adalah sebuah pelayanan perawatan ala kadarnya, atau pemberian obat jalan ditempat (treadmill medicine)." Namun dengan semakin banyak bermunculannya jasa pelayanan kesehatan butik ini, maka akan timbul dua jenis sistem pelayanan kesehatan: pelayanan butik untuk yang mampu, dan pelayanan kesehatan yang harus lama mengantri untuk yang tidak mampu. "Seratus lima puluh dolar perbulan yang harus dialokasikan oleh pendapatan $17.000 sampai $18.000 pertahunnya," ujar Caleb Arias, seorang spesialis direktur proyek pada Latino Health Access di Santa Ana, California. Lewis memberikan komentarnya untuk mempertimbangkan kembali dua jenis sistem pelayanan kesehatan, "Sepertinya kita memiliki dilema yang menyangkut permasalahan etika."
Banyak dokter, yang sensitif terhadap isu etika, tampaknya menjadi terpojok oleh biaya yang menggelembung, dan yang paling sering terutama bersumber dari asuransi terhadap malpraktek. Biaya premi menghabiskan $1 dari setiap $7 dollar pendapatan yang masuk. Beberapa bahkan tidak mampu mendapatkan asuransi pada tingkat harga berapapun. Sebagai contoh adalah Valley Center for Women's Health di New Jersey, yang memiliki enam tenaga obsterti/ginekolog. Premi asuransi untuk malpraktek yang semua sebesar $370.000 ditahun 2001, kemudian melonjak menjadi $710.000 di tahun berikutnya. Perbedaan sebesar $340.000 akan ditutupi dari kantong dua orang dokter yang saling bermitra, namun kemudian untuk tetap menjaga tingkat pendapatan mereka, mereka akan menambah jumlah pasien mereka dan alokasi waktu untuk bekerja yang lebih panjang. Namun seiring berkurangnya pendapatan per jam kerja, solusi untuk menghemat biaya pengeluaran berakibat pada perubahan drastis: Dua orang pekerja yang telah bekerja selama 15 tahun terpaksa di PHK, satu dari tiga klinik ditutup, dan untuk menghemat ongkos jasa medis mereka, klinik berhenti untuk menerima pembayaran menggunakan kartu kredit. Di ujung keputusasaan mereka, salah satu dari mitra tersebut, Dr. Richard Levine, berpikir untuk meninggalkan bidang obstetri (dan hanya melayani pertemuan untuk konsultasi ginekologi), untuk menghemat biaya asuransi sebesar $40.000. "Saya masih sering merasa terburu-buru ketika membantu proses kelahiran bayi," ujar Levine. "Namun juga mulai menghantui pikiran saya: Apakah sesuai jika saya bekerja sepanjang Januari hingga Juli hanya untuk melunasi asuransi malpraktek saya?"
Biaya yang semakin membumbung tinggi membuat para tenaga medis berfokus pada marjin laba, bukan pada pengobatan, yang juga disebabkan karena terus menurunnya pendapatan. Seorang mitra Valley, Michael Faust, mencatat penurunan tren kelahiran anak: 15 tahun yang lalu, biaya per kelahiran seorang bayi sebesar $5.000 dibayar oleh asuransi kesehatan. Valley Center saat ini hanya mendapatkan $4000, termasuk biaya perawatan sang ibu dan untuk proses melahirkan. Untuk pasien yang mendapat bantuan dari Blue Cross, Valley hanya mendapat pengembalian $2.100. Penghematan yang terlalu berlebihan ini, dibeberapa negara bagian seperti New Jersey menyebabkan sebagian dokter pindah ke negara bagian lain, bahkan beberapa memutuskan untuk meninggalkan dunia kedokteran.
Di Valley Center, pemutusan pembayaran oleh asuransi terjadi pada tahun 2003, ketika perusahaan asuransi menyampaikan keputusan untuk tidak merevisi kebijakannya mengenai asuransi malpraktek di New Jersey, kepada pengelola Valley, yaitu Dr. Levine dan Dr. Faust. Tanpa adanya asuransi, para dokter secara legal dinyatakan dilarang untuk melakukan praktek. Sebuah studi menemukan bahwa satu perusahaan penanggung dengan premi pertahunnya $100.000 untuk satu orang obginekolog yang juga menagih $500.000 kepada Valley sebagai pembayaran dimuka, untuk dua tahun. Diliputi rasa takut akan kehilangan prakteknya, Levine berkelakar, "Sepertinya kami sedang berpikir untuk membuka sebuah kios yang menjual pizza disekitar sini." Kemudian, di waktu yang lebih serius, kedua dokter tersebut menyetujui untuk menerima tawaran dari perusahaan asuransi. Hanya itulah satu-satunya pilihan bagi mereka jika mereka ingin melanjutkan pelayanan profesional yang mereka berikan untuk membantu sekitar 700 bayi yang akan lahir ditempat tersebut setiap tahunnya.
Semakin beragam pandangan masyarakat pasar terhadap praktek jasa medis butik. Seorang pasien yang bekerja sebagai eksekutif pada sebuah perusahaan, Debra Eggeman dari Buena Park, California, membayar sebesar $1800 untuk pelayanan jasa tersebut memberikan komentarnya, "Ketika saya mendengarnya untuk pertama kali, saya mengatakan, 'Apa artinya ini semua bagi saya?". Kemudian sayapun berkata, Mau tahu? Saya sangat menyukainya. Cukup masuk akal. "Seorang CEO dari California Medical Association, Jack Lewin pun memberikan komentarnya, "Rata-rata seorang dokter harus menemui ribuan pasien setiap tahunnya untuk dapat terus bertahan, dan hasilnya adalah sebuah pelayanan perawatan ala kadarnya, atau pemberian obat jalan ditempat (treadmill medicine)." Namun dengan semakin banyak bermunculannya jasa pelayanan kesehatan butik ini, maka akan timbul dua jenis sistem pelayanan kesehatan: pelayanan butik untuk yang mampu, dan pelayanan kesehatan yang harus lama mengantri untuk yang tidak mampu. "Seratus lima puluh dolar perbulan yang harus dialokasikan oleh pendapatan $17.000 sampai $18.000 pertahunnya," ujar Caleb Arias, seorang spesialis direktur proyek pada Latino Health Access di Santa Ana, California. Lewis memberikan komentarnya untuk mempertimbangkan kembali dua jenis sistem pelayanan kesehatan, "Sepertinya kita memiliki dilema yang menyangkut permasalahan etika."
Banyak dokter, yang sensitif terhadap isu etika, tampaknya menjadi terpojok oleh biaya yang menggelembung, dan yang paling sering terutama bersumber dari asuransi terhadap malpraktek. Biaya premi menghabiskan $1 dari setiap $7 dollar pendapatan yang masuk. Beberapa bahkan tidak mampu mendapatkan asuransi pada tingkat harga berapapun. Sebagai contoh adalah Valley Center for Women's Health di New Jersey, yang memiliki enam tenaga obsterti/ginekolog. Premi asuransi untuk malpraktek yang semua sebesar $370.000 ditahun 2001, kemudian melonjak menjadi $710.000 di tahun berikutnya. Perbedaan sebesar $340.000 akan ditutupi dari kantong dua orang dokter yang saling bermitra, namun kemudian untuk tetap menjaga tingkat pendapatan mereka, mereka akan menambah jumlah pasien mereka dan alokasi waktu untuk bekerja yang lebih panjang. Namun seiring berkurangnya pendapatan per jam kerja, solusi untuk menghemat biaya pengeluaran berakibat pada perubahan drastis: Dua orang pekerja yang telah bekerja selama 15 tahun terpaksa di PHK, satu dari tiga klinik ditutup, dan untuk menghemat ongkos jasa medis mereka, klinik berhenti untuk menerima pembayaran menggunakan kartu kredit. Di ujung keputusasaan mereka, salah satu dari mitra tersebut, Dr. Richard Levine, berpikir untuk meninggalkan bidang obstetri (dan hanya melayani pertemuan untuk konsultasi ginekologi), untuk menghemat biaya asuransi sebesar $40.000. "Saya masih sering merasa terburu-buru ketika membantu proses kelahiran bayi," ujar Levine. "Namun juga mulai menghantui pikiran saya: Apakah sesuai jika saya bekerja sepanjang Januari hingga Juli hanya untuk melunasi asuransi malpraktek saya?"
"Namun juga mulai menghantui pikiran saya: Apakah sesuai jika saya bekerja sepanjang Januari hingga Juli hanya untuk melunasi asuransi malpraktek saya?"
-Dr. Richard Levine, untuk menjelaskan berapa banyak pendapatannya yang hilang entah kemana.
Di Valley Center, pemutusan pembayaran oleh asuransi terjadi pada tahun 2003, ketika perusahaan asuransi menyampaikan keputusan untuk tidak merevisi kebijakannya mengenai asuransi malpraktek di New Jersey, kepada pengelola Valley, yaitu Dr. Levine dan Dr. Faust. Tanpa adanya asuransi, para dokter secara legal dinyatakan dilarang untuk melakukan praktek. Sebuah studi menemukan bahwa satu perusahaan penanggung dengan premi pertahunnya $100.000 untuk satu orang obginekolog yang juga menagih $500.000 kepada Valley sebagai pembayaran dimuka, untuk dua tahun. Diliputi rasa takut akan kehilangan prakteknya, Levine berkelakar, "Sepertinya kami sedang berpikir untuk membuka sebuah kios yang menjual pizza disekitar sini." Kemudian, di waktu yang lebih serius, kedua dokter tersebut menyetujui untuk menerima tawaran dari perusahaan asuransi. Hanya itulah satu-satunya pilihan bagi mereka jika mereka ingin melanjutkan pelayanan profesional yang mereka berikan untuk membantu sekitar 700 bayi yang akan lahir ditempat tersebut setiap tahunnya.
Sumber : Buku Bisnis Jilid ke satu Ricky W. Griffin dan Ronald J.Ebert. Hal 305-306 dam 327 Tahun 2002 Penerbit Erlangga Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar