Namun dengan datarnya penjualan Amerika Serikat dan pasar diskon Amerika Serikat yang hampir mencapai titik jenuh, Wal-Mart sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan ekspansi di Amerika Serikat. Mereka sudah mulai merambah pasar-pasar pengecer terspesialisasi, seperti PETsMART, Albertson's, Toys "R" Us, dan Best Buy, dan mereka terus memperkenalkan produk-produk barunya di toko-toko yang sudah ada. "Aksi agresif Wal-Mart menjual bensin eceran", perkiraan seorang konsultan eceran, "dapat berkembang pada penjualan mobil bekas, jasa keuangan, toko peralatan rumah tangga, dan jasa makanan." Tetapi, diluar semua aktivitas domestik itu, Wal-Mart masih melihat ekspansinya kepasar internasional sebagai pilihan yang paling menarik.
Ekspansi ke pasar internasional dilakukan Wal-Mart pertama kali pada tahun 1991, ketika Sam's Club dibuka dekat Meksiko City. Saat ini, Divisi Internasional menjalankan 1.100 toko yang tersebar diberbagai negara, seperti Argentina, Brazil, Kanada, Cina, Jerman, Korea, Meksiko, Puerto Rico, dan Inggris. Menariknya, disetiap pasar tersebut, akuisisi memiliki peranan penting dalam melakukan ekspansi disatu negara. Sebagai contoh di Kanada, Wal-Mart masuk ke pasar Kanada dengan cara membeli 122 toko Woolco. Operasinya di Jerman dimulai dengan melakukan akuisisi terhadap 21 toko hipermarket Wertkauf dan 74 toko Interspar. Aksinya yang terbaru dan terkesan sangat ambisius adalah aktivitasnya di Inggris, dimana Wal-Mart membeli 230 toko ASDA pada tahun 1999. Proses pengintegrasian toko-toko tersebut untuk beroperasi atas nama Wal-Mart mencakup mengganti nama, merenovasi fasilitas toko, membawa manajer dari Amerika Serikat, dan mengubah komposisi produk yang dijual.
Wal-Mart masih berusaha untuk mencari cara yang efektif dalam berurusan dengan perbedaan praktek dan budaya berbisnis. Permasalahan pertama adalah kecilnya bangunan toko yang diakuisisi, kebanyakan hanya berukuran sepertiga dari luas toko Wal-Mart umumnya. Strategi "one-stop" (serba ada) Wal-Mart sangat bergantung pada, antara lain, luas toko-dengan menyediakan semua dalam satu atap-namun pelanggan Eropa tidak menyukai toko yang sangat luas karena mereka tidak merasakan adanya privasi. Sebagai tambahan, mereka umumnya lebih sering berbelanja dibandingkan orang Amerika dan membeli lebih sedikit tiap belanja. Mereka merasa tidak perlu mendorong-dorong kereta belanjaan yang besar keliling tempat perbelanjaan. Ini menjadi dilema bagi manajemen Wal-Mart : Kereta belanjaan yang kecil dapat membuat mereka memasukkan barang lebih banyak ditoko yang sempit, kereta kecil tidak mendorong keinginan untuk berbelanja barang-barang ukuran besar.
Terakhir, orang-orang Eropa tidak peduli pada pelayan yang menyapa dengan muka manis. "Orang-orang Jerman sangat skeptis," ujar seorang analis dari Deutsche Bank. "Mereka tidak ingin membayar upah pelayan didepan toko." Peraturan negara juga menjadi hambatan lain. Di Inggris dan Jerman, toko 24 jam dilarang beroperasi. Pengadilan Jerman mendukung hak pegawai untuk menggunakan anting dan menumbuhkan kumis dan janggut, dan ketika perusahaan mencoba ke pengadilan. Peraturan-peraturan hukum Eropa juga sangat ketat dalam penjualan "Los Leader"-produk-produk popular yang dijual dibawah harga modal untuk mengundang pembeli mendatangi toko. Negosiasi dengan pemasok juga terikat oleh berbagai peraturan. Di Meksiko, Wal-Mart mendapat tumtutan dari pemerintah lokal ketika meminta diskon besar-besaran dari pemasok.
Masuknya Wal-Mart kedalam pasar yang baru "merupakan mimpi buruk bagi banyak pengusaha eceran," ucap seorang konsultan bisnis eceran, Michael. P. Godliman. Untuk membalas serangan, banyak pengecer lokal meniru strategi yang dilakukan Wal-Mart-sebut saja, melalui pemotongan biaya dan penambahan berbagai variasi-dan banyak yang menambah produk dan jasa yang didasarkan pada selera lokal. Sebagai contoh, sebuah supermarket di Meksiko, Soriana, berperang dengan toko-toko Wal-Mart. "Wal-Mart merupakan lawan yang sangat tangguh, namun kami tidak takut menantangnya," ucap CEO Soriana, Ricardo Martin. Berharap untuk mencegah masuknya Wal-Mart ke Perancis, pasar eceran kedua terbesar di Eropa, Carrefour, telah menambah fasilitas pelayanan, seperti agen perjalanan, toko sepatu, dan melarang penggunaan lampu fluorescent. Yang lebih penting lagi, merger yang baru-baru ini dilakukan dengan pengecer kedua terbesar di Prancis, Promodes, telah meningkatkan kekuatan pasar Carrefour. Carrefour, menurut seorang eksekutif, "Sangat keras hati. Merupakan pesaing paling tangguh yang pernah saya temui." Pengecer Eropa lainnya, seperti toserba Belanda, Ahold, sedang merencanakan untuk melakukan merger sebagai sebuah tindakan jaga-jaga.Terakhir, orang-orang Eropa tidak peduli pada pelayan yang menyapa dengan muka manis. "Orang-orang Jerman sangat skeptis," ujar seorang analis dari Deutsche Bank. "Mereka tidak ingin membayar upah pelayan didepan toko." Peraturan negara juga menjadi hambatan lain. Di Inggris dan Jerman, toko 24 jam dilarang beroperasi. Pengadilan Jerman mendukung hak pegawai untuk menggunakan anting dan menumbuhkan kumis dan janggut, dan ketika perusahaan mencoba ke pengadilan. Peraturan-peraturan hukum Eropa juga sangat ketat dalam penjualan "Los Leader"-produk-produk popular yang dijual dibawah harga modal untuk mengundang pembeli mendatangi toko. Negosiasi dengan pemasok juga terikat oleh berbagai peraturan. Di Meksiko, Wal-Mart mendapat tumtutan dari pemerintah lokal ketika meminta diskon besar-besaran dari pemasok.
"Masuknya Wal-Mart dalam ke suatu pasar yang baru "merupakan mimpi buruk bagi banyak pengusaha eceran" -Konsultan Eceran, Michael. P. Godliman-
Pada tahun 2002, upaya Wal-Mart dipasar internasional membawa hasil yang bervariasi. Perusahaan mengalami peningkatan penjualan yang sedang, walau sebenarnya jauh dibawah peningkatan yang dicapai tahun sebelumnya. Margin kotor yang didapat pada penjualan internasional, hanya 4,1%, dibandingkan dengan hasil yang didapat toko domestik sebesar 7,1%. Namun Wal-Mart tertutupi keuntungan yang didapat toko-toko domestik, sehingga tidak terpengaruh. Industri eceran internasional tentu akan melakukan konsolidasi hingga tahap dimana pengecer yang sangat besar dan mampu beroperasi diberbagai negaralah yang akan tetap bertahan. Dan Wal-Mart sudah pasti adalah salah satunya.
Apalagi yang bisa dikatakan tentang pengecer raksasa yang telah menjadi perusahaanpaling menguntungkan didunia? Wal-Mart <www.walmartstores.com> memang perusahaan raksasa, diukur dari segi manapun. Mereka memperkerjakan 1,3 juta orang di 4.688 toko-tokonya yang tersebar di seluruh dunia dan didatangi lebih dari 100 juta pelanggan setiap minggunya. Penjualan total tahun 2003 melebihi $259 miliar, dan selama dua tahun, Wal-Mart menduduki peringkat teratas Fortune 500- perusahaan nonmanufaktur pertama yang menduduki posisi tersebut.
Namun dengan datarnya penjualan Amerika Serikat dan pasar diskon Amerika Serikat yang hampir mencapai titik jenuh, Wal-Mart sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan ekspansi di Amerika Serikat. Mereka sudah mulai merambah pasar-pasar pengecer terspesialisasi, seperti PETsMART, Albertson's, Toys "R" Us, dan Best Buy, dan mereka terus memperkenalkan produk-produk barunya di toko-toko yang sudah ada. "Aksi agresif Wal-Mart menjual bensin eceran", perkiraan seorang konsultan eceran, "dapat berkembang pada penjualan mobil bekas, jasa keuangan, toko peralatan rumah tangga, dan jasa makanan." Tetapi, diluar semua aktivitas domestik itu, Wal-Mart masih melihat ekspansinya kepasar internasional sebagai pilihan yang paling menarik.
Ekspansi ke pasar internasional dilakukan Wal-Mart pertama kali pada tahun 1991, ketika Sam's Club dibuka dekat Meksiko City. Saat ini, Divisi Internasional menjalankan 1.100 toko yang tersebar diberbagai negara, seperti Argentina, Brazil, Kanada, Cina, Jerman, Korea, Meksiko, Puerto Rico, dan Inggris. Menariknya, disetiap pasar tersebut, akuisisi memiliki peranan penting dalam melakukan ekspansi disatu negara. Sebagai contoh di Kanada, Wal-Mart masuk ke pasar Kanada dengan cara membeli 122 toko Woolco. Operasinya di Jerman dimulai dengan melakukan akuisisi terhadap 21 toko hipermarket Wertkauf dan 74 toko Interspar. Aksinya yang terbaru dan terkesan sangat ambisius adalah aktivitasnya di Inggris, dimana Wal-Mart membeli 230 toko ASDA pada tahun 1999. Proses pengintegrasian toko-toko tersebut untuk beroperasi atas nama Wal-Mart mencakup mengganti nama, merenovasi fasilitas toko, membawa manajer dari Amerika Serikat, dan mengubah komposisi produk yang dijual.
Wal-Mart masih berusaha untuk mencari cara yang efektif dalam berurusan dengan perbedaan praktek dan budaya berbisnis. Permasalahan pertama adalah kecilnya bangunan toko yang diakuisisi, kebanyakan hanya berukuran sepertiga dari luas toko Wal-Mart umumnya. Strategi "one-stop" (serba ada) Wal-Mart sangat bergantung pada, antara lain, luas toko-dengan menyediakan semua dalam satu atap-namun pelanggan Eropa tidak menyukai toko yang sangat luas karena mereka tidak merasakan adanya privasi. Sebagai tambahan, mereka umumnya lebih sering berbelanja dibandingkan orang Amerika dan membeli lebih sedikit tiap belanja. Mereka merasa tidak perlu mendorong-dorong kereta belanjaan yang besar keliling tempat perbelanjaan. Ini menjadi dilema bagi manajemen Wal-Mart : Kereta belanjaan yang kecil dapat membuat mereka memasukkan barang lebih banyak ditoko yang sempit, kereta kecil tidak mendorong keinginan untuk berbelanja barang-barang ukuran besar.
Terakhir, orang-orang Eropa tidak peduli pada pelayan yang menyapa dengan muka manis. "Orang-orang Jerman sangat skeptis," ujar seorang analis dari Deutsche Bank. "Mereka tidak ingin membayar upah pelayan didepan toko." Peraturan negara juga menjadi hambatan lain. Di Inggris dan Jerman, toko 24 jam dilarang beroperasi. Pengadilan Jerman mendukung hak pegawai untuk menggunakan anting dan menumbuhkan kumis dan janggut, dan ketika perusahaan mencoba ke pengadilan. Peraturan-peraturan hukum Eropa juga sangat ketat dalam penjualan "Los Leader"-produk-produk popular yang dijual dibawah harga modal untuk mengundang pembeli mendatangi toko. Negosiasi dengan pemasok juga terikat oleh berbagai peraturan. Di Meksiko, Wal-Mart mendapat tumtutan dari pemerintah lokal ketika meminta diskon besar-besaran dari pemasok.
Sumber : Buku Bisnis Jilid ke satu Ricky W. Griffin dan Ronald J.Ebert. Hal 125-126 dan 148 Tahun 2002 Penerbit Erlangga Jakarta.
sumber gambar 1 :
sumber gambar 2 :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar