Kamis, 07 Mei 2020

Bagaimana Membangunkan "Zombie"?



     Terdapat sebuah tradisi lama di Jepang dimana pemerintah seringkali membantu membangun kembali bisnis yang sedang jatuh dengan cara memberikan pinjaman dengan bunga rendah atau bahkan tanpa bunga sama sekali. Ketakutan yang muncul adalah bahwa bila bisnis jatuh, maka orang-orang akan kehilangan pekerjaan dan sistem industri Jepang yang sangat terintegrasi akan menderita akibatnya. Bisnis-bisnis trsebut, beberapa telah berpuluh kali diselamatkan oleh pemerintah, disebut sebagai perusahaan "zombie". Kerugian utama dari aksi seperti ini adalah, bahwa akuntabilitas perusahaan menjadi turun. Manajer tidak selalu harus memikirkan keuntungan apapun efisiensi, karena mereka percaya bahwa pemerintah akan menjamin mereka. "Intervensi pemerintah semacam ini dapat berperan dalam jangka pendek. Namun dari sudut pandang jangka panjang, implikasinya sangat buruk: investor akan mengerti bahwa pasar yang ada ternyata semu, dan karenanya mereka mengundurkan diri," ujar seorang analis Jean Marie Eveillard.
     Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan yang mulai bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Perusahaan pembuat kosmetik, Shiseido <www.shiseido.co.jp/com> terlalu banyak menyimpan barang barang persediaan, sehingga harus menanggung biaya yang sangat tinggi, yang menghasilkan kerugian sebesar $550 juta selama dua tahun. Namun, alih-alih meminta pemerintah untuk menutupi kerugian mereka, eksekutif di Shiseido memfokuskan dirinya untuk melakukan peningkatan yang mendasar. Teknologi yang lebih maju telah membuat mereka mampu melakukan kontrol serta membuat prediksi mengenai barang persediaan yang perlu disediakan dengan lebih efektif: Mereka berhasil mengurangi biaya secara keseluruhan dan membatasi jumlah produksi. Setelah Shiseido kembali mendapatkan keuntungan, kepala bagian logistik, Seiji Nishimori mengatakan, "Kami telah menunjukkan pada perusahaan-perusahaan Jepang lainnya bahwa sangat mungkin sebuah perusahaan bangkit kembali dari keterpurukan".

    Canon <www.canon.com>, sebagai produsen mesin fotokopi dan printer laser terbesar didunia, juga telah menerapkan pendekatan untuk meningkatkan kinerja. CEOnya, Fuji Mitarai telah mengganti setiap lini manufaktur 29 pabriknya yang berlokasi di Jepang dengan tim kecil yang mengatur dirinya sendiri, dikerjakan oleh lusinan orang yang mengerjakan sebuah pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan oleh lebih dari 30 orang. Timnya menemukan teknik pengelolaan persediaan barang yang lebih efisien, sehingga Canon berhasil menutup 20 dari 34 gudangnya. "Perakitan merupakan bagian dimana biaya paling besar terjadi", ungkap Mitarai. Pendapatan Canon meningkat hingga 5,3%, sehingga Matarai dapat menyatakan bahwa "Kini kami lebih mampu menghasilkan keuntungan, berkat perubahan yang dilakukan".
     Sukses yang diraih oleh perusahaan-perusahaan yang dikenal memiliki kinerja bagus, seperti perusahaan multinasional Toyota, menyadarkan perusahaan Jepang lainnya mengenai keuntungan dari persaingan biaya secara global. Perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi telah menelantarkan usaha perakitan dan mengalihkan perhatian ke penelitian dan pengembangan untuk melawan masuknya produk-produk elektronik murah dari China, Taiwan, dan Korea. Sebagai contoh, NEC telah berpindah dari bisnis pembuatan chip semikonduktor yang tidak menghasilkan keuntungan untuk lebih berfokus pada telepon seluler dan piranti lunak yang lebih produktif dan menguntungkan Sharp, yang juga telah melepaskan produksi monitor komputer yang memiliki margin rendah, berfokus pada produk-produk yang lebih inovatif seperti liquid crystal display (LCD) untuk PDA. Sony sedang menciptakan komputer dengan chip baru yang revolusioner sambil terus mengurangi investasinya pada produk eletronik konsumen.
     Ketiga perusahaan tersebut menyatakan bahwa mereka memberi perhatian lebih banyak kepada konsumen. "Dulu kami sangat bangga dengan teknologi hebat yang kami miliki, dan kami senantiasa memproduksi produk-produk tanpa memikirkan apa yang dibutuhkan pelanggan kami," ujar direktur NEC, Kaoru Tosaka."Kini kami lebih menekankan kepada efisiensi, profit, serta klien".

"Dulu kami sangat bangga dengan teknologi hebat yang kami miliki, dan kami senantiasa memproduksi produk-produk tanpa memikirkan apa yang dibutuhkan pelanggan kami."
-Eksekutif NEC, tentang bagaimana perusahaan Jepang telah menjadi "Zombie"-

     Para "zombie" perlu mendengarkan pelajaran yang didapatkan perusahaan-perusahaan yang berhasil ini. Perhatikan persediaan barang. Potong biaya jika dimungkinkan. Gunakan teknologi informasi secara lebih efektif. Sederhanakan lini produk. Lakukan eksperimen dengan cara-cara baru dalam berorganisasi. Tutup bisnis-bisnis yang merugikan. Pilih lokasi dimana perusahaan dapat menghasilkan nilai tambah. Dengarkan umpan balik dari pelanggan. Jika para "zombie" tersebut dapat mengikuti saran-saran ini, orang-orang Jepang-serta orang lain diseluruh dunia-pasti akan mendapat keuntungan. 


Sumber : Buku Bisnis Jilid ke satu Ricky W. Griffin dan Ronald J.Ebert. Hal 145 Tahun 2002 Penerbit Erlangga Jakarta.























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diagnosis Untuk Bisnis Yang Sakit

      Tindakan terbaik apakah yang dapat diambil jika beban yang ditanggung bisnis lebih besar daripada pendapatannya, dan pendapatan itu s...