Bisnis harus dipertanggungjawabkan kepada sejumlah elemen eksternal. Selain itu, manajer juga harus dapat mengoptimalisasikan keputusan mereka ketika berhadapan dengan kepentingan yang saling bertentangan. Perdebatan ini lebih jelas bila kita membahas outsourcing pegawai asing. Outsourcing bukanlah fenomena baru. Selama beberapa tahun belakangan ini, perusahaan manufaktur telah memberikan subkontrak kepada pabrik-pabrik yang memperkerjakan pegawai dengan biaya rendah di negara-negara berkembang.
Nike dan Reebok, sebagai contoh, melakukan outsourcing untuk produksi semua sepatu atletiknya di pabrik-pabrik Asia Tenggara, dan berbagai perusahaan lain melakukan praktek yang serupa. Secara umum, nampaknya outsourcing dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keterampilan rendah. Pekerja dan pengamat telah mewaspadai praktek ini, pemimpin-pemimpin bisnis berargumen dengan yakin bahwa praktek seperti ini mampu menciptakan pekerjaan yang lebih berkualitas di Amerika Serikat.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, sebuah perubahan besar dalam praktek outsourcing telah terjadi, dimana satu persatu perusahaan mulai menggunakan pegawai-pegawai berketerampilan khusus dan/atau pekerja profesional dari negara lain. Programmer piranti lunak, sebagai contoh, adalah tenaga kerja yang paling dicari. Perusahaan seperti Microsoft menemukan bahwa programmer berkemampuan tinggi dari tempat-tempat seperti India memiliki performa kerja sebaik programmer dari Amerika Serikat, dengan gaji hanya seperempatnya. Boeing saat ini mengerjakan pekerjaan teknisnya diluar. Beberapa ahli mulai membuat prediksi mengenai berapa banyak lagi sektor jasa dasar, mulai dari tenaga pengumpul pajak pendapatan hingga analis keuangan dan medis yang dapat dikerjakan di luar negeri.
Seberapa besarkah masalah ini? Para ahli memperkirakan bahwa sektor 3,3 juta pekerjaan akan di ekspor dari Amerika Serikat pada tahun 2015. dan 14 juta lainnya diindentifikasi sebagai pekerjaan yang berpotensi besar untuk diekspor. Tentu saja banyak ahli yang menyetujui outsourcing banyak berdampak pada beberapa individu, dan dalam jangka panjang negara secara keseluruhan. Selain ini, seperti yang dikemukakan salah satu CEO, "Jika pesaing Anda mengirimkan pekerjaan ke luar negeri, Anda seperti dipaksa untuk melakukan hal yang sama."
"Jika pesaing Anda mengirimkan pekerjaan ke luar negeri, Anda seperti dipaksa untuk melakukan hal yang sama."
-CEO Amerika Serikat-
Pernyataan tersebut menyimpulkan debat ini dengan baik. Di satu sisi, jika bisnis harus dapat di pertanggungjawabkan kepada para pemegang saham, mereka diwajibkan untuk menekan biaya hingga serendah mungkin dan tetap kompetitif dipasar mereka. Berdasarkan pandangan ini, maka mereka terpaksa melakukan outsourcing kapanpun dan dimanapun memungkinkan. Di lain pihak, sesungguhnya bisnis memiliki tanggung jawab sosial kepada pekerjanya, mereka harus mempertimbangkan biaya sosial dan biaya kemanusiaan dari menggantikan pekerja Amerika Serikat. Jadi sisi manakah yang benar? Tentunya, dalam kasus ini tidak ada jawaban yang sederhana, dimana kebenaran dan kesalahan bergantung yang melihatnya.
Sumber : Buku Bisnis Jilid ke satu Ricky W. Griffin dan Ronald J.Ebert. Hal 46 Tahun 2002 Penerbit Erlangga Jakarta.
Sumber Gambar :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar