Ketika era tahun 1990-an hampir berakhir, rumah produk konsumen besar Procter & Gamble (P&G) <www.pg.com> menemukan dirinya dalam sebuah lubang besar yang belum pernah ditemuinya. Didorong oleh merek-merek besar seperti Tide, Crest, Charmin, Downy, Pampers, Folgers, Bounty, dan Pringles era tahun 1980-an merupakan dekade dimana mereka mengalami sebuah pertumbuhan yang fenomenal, namun ditahun 1990-an-untuk pertama kalinya sepanjang sejarah-P&G gagal dalam mencapai sasarannya untuk melipatgandakan angka penjualan tiap dekade. Salah satu penyebab permasalahannya cukup jelas-tingkat pergantian pegawai yang tinggi ditingkat atas. P&G telah dipimpin oleh tiga CEO berbeda selama periode 1990-an, dimana setiap CEO memiliki kepribadian dan pandangan masing-masing yang unik mengenai bagaimana perusahaan seharusnya berjalan.
CEO yang terakhir, Durk Jager, ditunjuk pada tahun 1998. Jager merupakan seorang pemimpin yang sangat suka merestrukturisasi organisasi, dan telah memindahkan tidak kurang dari 110 ribu pekerja ke dalam pekerjaan baru. Strategi yang dijalankannya pun lebih berfokus pada penemuan produk-produk yang mengalami penjualan terbaik. Sayangnya, inovasi yang diunggulkan, seperti kosmetika Olay, sering kali gagal. Dia juga menyukai ide mengenai pemberian nama merek Amerika pada produk global P&G, namun para konsumen di Jerman dan Hongkong tidak mengenali nama-nama merek seperti "Pantene" dan "Dawn", sehingga mengakibatkan penjualan diluar negeri mengalami penurunan. Jager berusaha untuk mendekati perusahaan-perusahaan obat-obatan seperti Warner Lambert dan American Home Product namun kemudian membatalkannya karena tekanan dari para investor yang memperkirakan bahwa harganya akan meningkat tinggi.
Di bawah kepemimpinan Jager, P&G gagal untuk memenuhi target dan kehilangan $70 juta dalam bentuk nilai pasar. Kondisi tersebut kemudian diperburuk dengan perilaku agresif Jager yang tidak disukai pegawai-pegawai P&G. Laporan dari orang dalam menyebutkan bahwa semangat kerja terus menurun setiap harinya, banyak manager senior merasa kebingungan dengan apa yang selanjutnya harus mereka lakukan."Saya merasa buntu," ujar seorang wakil presiden. "Seolah-olah tidak ada lagi yang tahu apa yang harus dilakukan," Jager kemudian dipecat pada pertengahan tahun 2000, setelah memegang jabatan hanya selama 17 bulan.
Akhirnya pengumuman mengenai penggantinya keluar, seorang veteran P&G yang telah mengabdi selama 25 tahun bernama Alan Lafley. Ia mendapat sambutan yang buruk dari publik disertai penurunan nilai saham sebesar $4 persaham. Menurut sebuah nasihat bijak, Durk Jager telah membawa perusahaan kedalam kondisi yang penuh dengan permasalahan, dimana janya penerus yang dinamis dan berkepribadian kuat yang dapat mengubah kondisi yang telah tercipta. Dan dari sudut pandang manapun, penerus itu jelas bukanlah Alan Lafley. Seorang analis industri memberi komentar. "Jika terdapat 15 orang dimeja konferensi, tidak akan terlihat bahwa dialah CEO-nya." Majalah Fortune menyebutnya sebagai "the un-CEO".
Namun hal yang membuat banyak orang terkejut-dan mengagetkan beberapa orang-Lafley yang pendiam dan dianggap tidak mampu, bisa memutarbalikan kondisi perusahaan yang hampir jatuh. Bahkan seorang pemimpin flamboyan pun mungkin akan mengalami kegagalan dalam memperbaiki kondisi tersebut. Untuk beberapa hal, dia bahkan membuatnya seolah-olah mudah dilakukan, dengan mempraktekkan strategi mendasar, kepemimpinan yang jujur, dan "langsung pada tujuan". Lafley juga berhasil mengembalikan harga diri dan kebanggaan perusahaan dan produk serta telah mengembalikan kepercayaan diri para pegawai P&G dengan caranya yang dramatis.
Sejak hari pertamanya sebagai CEO, Alan Lafley tahu bahwa P&G dapat berkinerja lebih baik dalam menjual produk-produk unggulannya. Salah satu tindakan yang dilakukannya adalah mengalokasikan sumber daya yang lebih untuk manajer-manajer, 10 besar produk perusahaan P&G. "Triknya," ujar Lafley,"adalah menemukan hal-hal kecil yang dapat dijual dan menjualnya sebanyak mungkin..itulah inti strategi kami," dia juga menambahkan "nampaknya sangat-sangat sederhana, namun saya yakin kesederhanaan itulah yang menjadi cara untuk memasarkan Pantene, merek produk rambut P&G dengan penjualan terlaris. Ketimbang memposisikan produk berdasarkan tipe rambut (untuk rambut tipe berminyak atau untuk tipe rambut normal), kampanye yang baru lebih menekankan penampilan rambut yang diinginkan konsumennya-seperti lebih bergelombang atau lebih mengembang. Penjualanpun meningkat sampai 8%.
Alih-alih mengembangkan produk secara internal, Lafley mengambil alih perusahaan-perusahaan kecil yang menciptakan ide-ide. Dia membuat pernyataan bahwa 50% dari inovasi yang dibuat oleh perusahaan harus terwujud melalui akuisisi seperti itu. Jika strategi yang dijalankannya terbukti sukses, jelas Lafley, "Kami akan melipatgandakan produktivitas investasi saat ini pada riset dan pengembangan produk." Lafley juga menuntut produk baru yang lebih menjual, ia mengingatkan penelitinya,"Inovasi, ada pada pandangan konsumen.. Tidak akan menjadi sebuah penemuan besar, sebelum konsumen menyukainya, kemudian membelinya."
Lafley juga berusaha mengubah budaya P&G yang sangat kaku dan serius ke arah yang lain. "Saya telah membuat berbagai simbolisasi, perubahan-perubahan yang sifatnya sangat fisik," sehingga orang percaya bahwa kami adalah bisnis yang sedang berubah". Dikantor pusatnya yang terletak di Cincinnati, manajer produk telah memindahkan ruang eksekutif hingga berada dekat dengan pegawainya. Panel-panel kayu dan lukisan-lukisan minyak diturunkan agar manajer-manajer teratas dapat bekerja dalam sebuah tim dengan lingkungan modern dan ruang yang luas. Lantai penthouse sekarang menjadi pusat pelatihan, dimana eksekutif-eksekutif tingkat atas memberi pelajaran dan membagi pengetahuan dengan para pekerja, "Saya sangat mempercayai bahwa pengetahuan adalah kekuatan," ujar Lafley, "dan mentransformasikan pengetahuan menjadi tindakan dalam pasar adalah salah satu hal yang menunjukkan kemampuan memimpin."
"Pengetahuan adalah kekuatan dan mentransformasikan pengetahuan menjadi tindakan dalam pasar adalah salah satu hal yang menunjukkan kemampuan memimpin."
-Alan Lafley, CEO Procter & Gamble-
Tidaklah mengherankan bahwa komunikasi antara manajer, pekerja, dewan direksi, dan bahkan dengan para pesaing, menjadi terbuka. "Anda dapat memberitahukan kepadanya kabar buruk atau hal-hal lain yang biasanya Anda takut untuk laporkan kepada bos lainnya." ujar salah seorang wakil presiden Lafley. CEO juga memberikan penghargaan kepada manajer-manajer atas hasil finansial yang dicapai dan peringatan terhadap pegawai dengan performa kerja yang rendah-setengah dari tim teratasnya sekarang terdiri atas orang-orang baru.
Dengan beberapa perubahan kecil yang dilakukannya, Alan Lafley memberikan dampak yang kuat terhadap performa P&G. Sejak ia menjabat sebagai CEO, pendapatan P&G telah melebihi pendapatan yang diekspektasikan dan harga saham P&G telah meningkat sebesar 70%. Keuntungan meningkat sebesar 49% dari keuntungan tahun lalu. Dan untuk Lafley sendiri, dia terus menekankan hal paling dasar. "Hampir mencapai 2 miliar kali perhari," ia mengingatkan terus para pegawainya," Produk P&G mengalami pengujian saat konsumen menggunakannya.. Jika kita melakukannya dengan tepat.. maka kita akan mendapatkan kepercayaan atas merek besar yang kita ciptakan."
Sumber : Buku Bisnis Jilid ke satu Ricky W. Griffin dan Ronald J.Ebert. Hal 245 dam 268 Tahun 2002 Penerbit Erlangga Jakarta.
Sumber Gambar :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar